
Seberkas Kenangan Indah di Pantai Penuh Arti
Lokasi: Pantai Njungwok, Gunung Kidul, Yogyakarta
Tidak pernah ada yang salah dari sebuah kisah perjalanan. Setiap perjalanan yang telah terukir mampu memiliki arti bagi setiap orang yang menjalaninya, entah hanya sekedar berarti dan kemudian berlalu, atau memiliki kesan yang begitu mendalam hingga selalu diingat sepanjang masa hidupnya.
Bagi saya, sebagai seorang pengagum laut dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya, selalu mampu mencintai dan menjaga seluruh kenangan saya saat berada di tepi pantai. Menikmati desiran ombak disertai birunya air laut lengkap dengan matahari terbenam di sudut laut begitu mampu meneduhkan hati.
Pantai Njungwok, sebagai salah satu dari sekian banyak pantai yang telah saya kunjungi, begitu mampu membuat saya jatuh hati. Kepada setiap keindahan yang ditawarkan melalui mata, hingga kemudian mampu membuat saya begitu terhanyut oleh setiap sudutnya pantainya. Saat itu, suasana begitu terik. Matahari yang cukup menyengat mengiringi perjalanan menuju destinasi. Setelah menempuh sekitar 2 jam perjalanan, rasa lelah kami terbayar lunas dengan hamparan pasir putih yang dikombinasikan dengan birunya air laut. Ditambah lagi, suasana pantai masih begitu asri, tidak terlalu banyak wisatawan yang datang dan berkunjung, menambah suasana ketenangan di pantai tersebut. Biaya retribusi tiketnyapun juga tergolong murah, untuk kalangan pantai dengan berbagai hal menarik yang ditawarkan di dalamnya. Di pantai ini, hanya terdapat beberapa penjual makanan dan minuman. Harganya pun juga masih terjangkau dikalangan para mahasiswa seperti kami. Saat berada disana, kami memilih untuk menikmati pantai dengan cara kami sendiri. Duduk berjajar di tepi pantai, menghadap ke laut, diiringi dengan petikan gitar membuat kami mampu mengalunkan beberapa lagu. Kedamaian dan keteduhan yang disajikan oleh Pantai Njungwok-pun juga membuat beberapa teman saya memilih untuk menikmati laut sembari berbaring di tepi pantai. Bercerita panjang tentang berbagai kisah hidup menambah kehangatan suasana di kala itu. Indah memang. Melakukan hal-hal sederhana bersama orang-orang yang kehadirannya selalu kamu harapkan ada, disertai dengan laut yang tiada ujung menjadi sebuah perpaduan yang pas untuk melahirkan kebahagiaan di hati.
Perjalanan panjang tidak harus melulu dengan menghabiskan biaya yang begitu besar. Cukup datang ke tempat-tempat yang mampu membuatmu kembali menyadari bahwa hidup begitu berharga ketika kamu melaluinya bersama orang-orang yang kamu cinta.
Pantai Njungwok, menjadi saksi betapa sederhananya kebahagian yang telah berhasil saya ciptakan bersama beberapa teman saya. Ia jugalah yang kemudian membuat saya memiliki rasa keterikatan untuk selalu berkunjung ke pantai-pantai yang lain.
![]() | ![]() | ![]() |
|---|

Menikmati Senja di Pantai Watu Kodok
Lokasi: Pantai Watu Kodok, Gunung Kidul, Yogyakarta
Ada banyak hal dalam hidup yang mampu membuat semua orang menciptakan definisi kebahagiaan, menurut mereka masing-masing. Saya tidak pernah menyangka, bahwa definisi bahagia menurut saya akan lahir secepat ini. Duduk di tepi pantai, bercakap-cakap sembari menanti matahari tenggelam di ujung barat, bersama orang-orang yang memiliki tempat di hati, menjadi sebuah definisi kebahagiaan yang begitu sempurna, setidaknya sempurna dalam versi saya. Tulisan inipun saya buat sesaat setelah saya menyadarinya.
Pantai Watu Kodok, saat itu menjadi tempat pilihan saya untuk menghabiskan waktu dan melihat matahari terbenam. Pantainya terlihat begitu sepi, karena saya berkunjung pada hari Senin, hari saat semua orang lebih memilih untuk bekerja daripada mengambil waktu untuk pergi ke destinasi. Pantai ini terletak bersebelahan dengan Pantai Sepanjang, hanya disekat oleh sebuah tebing tinggi. Saat itu, tidak banyak yang mengunjnuginya. Hanya ada saya dan sahabat saya, beberapa warga lokal yang sedang melakukan aktivitasnya, serta 5 wisatawana lokal yang juga berkunjung ke kawasan pantai. Bila dipandang dari faktor aksesbilitasnya, pantai Watu Kodok memang sedikit sulit untuk dijangkau. Jalan masuknyapun juga begitu terjal dan curam. Mungkin, faktor-faktor tersebut jugalah yang membuat pantai ini memiliki jumlah pengunjung yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan pantai Sepanjang. Namun, hal tersebut lantas tidak membuat saya kemudian menyesali perjalanan yang telah saya tempuh. Bagi saya, akan ada 1000 alasan dimana saya selalu mampu menghargai perjalanan-perjalanan yang telah saya lakukan di pantai manapun.
Pantai Watu Kodok tergolong cukup menarik, memiliki pasir putih dengan bukit-bukit di sudut kanan-kirinya menambah daya tarik dari pantai. Biaya retribusi tiket destinasinya tergolong cukup murah, yaitu 10.000 rupiah per orang. Jika kamu menaiki kendaraan bermotor roda dua, kamu cukup membayar sejumlah 2000 rupiah unruk retribusi parkir. Bila kamu merasa haus, maka minum air kelapa di tepi pantai dapat menjadi sebuah pilihan yang menarik. Harga air kelapa utuh juga dibanderol cukup murah, yaitu 10.000 rupiah. Maka menjadi pilihan yang tepat saat kamu memasukkan pantai Watu Kodok ke daftar destinasi yang layak kamu kunjungi nantinya.
Setelah melakukan beberapa perjalanan di tempat-tempat menarik, saya mampu mengambil kesimpulan bahwa melakukan perjalanan di hari-hari selain akhir pekan maupun hari libur merupakan sebuah pilihan yang terbaik. Hal tersebut mampu membuatmu melihat dan menikmati setiap sudut indah yang terdapat di destinasi tanpa harus terganggu oleh kepadatan wisatawan. Selain itu, membawa alat musik sederhana seperti gitar atau sekedar menyalakan lagu dari smartphone kamu, mampu menambah ketenangan dan kesyahduan suasana senja di tepi pantai.
Senja dan pantai memang selalu memiliki cara tersendiri untuk memikat hati saya. Untuk selalu kembali, dan kembali lagi.
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
|---|---|---|---|---|---|---|
![]() | ![]() |

Negeri di Atas Awan Dieng
Lokasi: Puncak Sikunir, Dieng, Jawa Tengah

Pariwisata dalam negeri mengalami perkembangan yang begitu pesat di beberapa tahun terakhir ini. Perkembangan yang signifikan tersebut ditunjukan oleh beberapa aspek yang terdapat di sektor ini, baik itu dari segi akomodasi, aksesibilitas, maupun atraksi yang ditawarkan kepada wisatawan saat berada di sebuah destinasi. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerahpun tentunya lahir atas dasar keyakinan akan potensi yang dimiliki oleh industri pariwisata dalam negeri. Keyakinan tersebut dibangun dengan dukungan penuh dari masyarakat setempat. Pembangunan tersebut tentunya dapat berlangsung akibat adanya kerjasama yang begitu kuat antar masyarakat setempat dengan pemerintah.
Dieng, menjadi salah satu destinasi yang cukup diperhitungkan bagi setiap pengagum pesona alam Indonesia. Pariwisata disana dapat terlahir dari adanya kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak, baik itu di pihak masyarakat lokal maupun pihak pemerintah setempat. Terdapat beberapa destinasi menarik yang layak dikunjungi oleh wisatawan saat berada di kawasan Dieng. Destinasi-destinasi pilihan tersebut antara lain Puncak Sikunir, Kawah Sikidang, Candi Arjuna,Telaga Warna,
Puncak Sikunir menjadi sebuah destinasi yang paling digemari oleh wisatawan saat berkunjung ke Dieng. Di puncak Sikunir, wisatawan akan dimanjakan oleh keindahan matahari terbit dari atas puncak. Selain itu, dari sudut ini wisatawan juga dapat melihat gunung Prau yang terletak tepat berhadapan dengan Puncak Sikunir. Total biaya yang perlu dikeluarkan oleh wisatawan saat akan menaiki Puncak Sikunir juga tergolong murah. Setiap wisatawan cukup membayar 10.000 rupiah untuk retribusi tiket masuk Puncak Sikunir, sedangkan untuk biaya parkirnya setiap motor akan dikenakan biaya sejumlah 5000 rupiah. Di sekitar destinasi, terdapat beberapa homestay yang tersedia bagi para wisatawan untuk menginap. Selain itu, terdapat beberapa pedagang lokal yang sudah mulai menjajakan dagangannya sejak pukul 2 pagi. Bahkan, beberapa dari mereka juga menawarkan jasa untuk mengantarkan para wisatawan yang hendak mendaki Puncak Sikunir. Berdasarkan hasil percakapan penulis dengan beberapa pedagang di kawasan Puncak Sikunir, para pedagang mengungkap bahwa destinasi ini dikelola oleh masyarakat desa setempat. Sehingga, total pendapatanpun juga akan dibagi rata untuk keperluan desa. Awalnya, penulis cukup terkejut dengan adanya fakta bahwa ternyata belum ada peran serta dari pemerintah di destinasi yang cukup besar dan memiliki nama di Indonesia ini. Para pedagangpun juga mengungkap bahwa kios-kios yang menjadi tempat mereka menjual barang dagangan dan makanan ringan merupakan kios yang dibangun oleh masyarakat desa, sehingga bentuk dan pondasinya pun masih terlihat sederhana. Namun, terdapat pancaran kebahagiaan tersendiri dari mata para pedagang ketika mengetahui bahwa Puncak Sikunir telah menjadi sebuah destinasi yang diperhitungkan oleh para wisatawan. Itikad dan kerjasama yang baik oleh warga desa setempatpun telah berhasil membuat wisatawan datang silih berganti.
Waktu yang tepat untuk memulai pendakian ke Puncak Sikunir adalah pukul 4 pagi. Beberapa alat dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan oleh para pendaki antara lain sepatu yang nyaman untuk mendaki, jaket, masker, sarung tangan, obat-obatan pribadi, serta minum secukupnya. Dikarenakan penanjakan dilakukan pada saat hari masih petang, maka suhu di perjalanan menuju puncakpun juga cukup menusuk tulang. Pada saat penulis melakukan pendakian, suhu mencapai 11 derajat celcius. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk menggunakan pakaian dan jaket yang mampu menghangatkan tubuh.
Para pendaki membutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam pendakian untuk dapat mencapai Puncak Sikunir. Jika kalian beruntung, maka kalian akan memperoleh momen matahari terbit dari sudut timur Puncak Sikunir. Saat itu, momen berlangsung begitu cepat. Penulis hanya menikmati sunrise sekitar 10-15 menit. Setelah itu, matahari terhalang oleh awan mendung, pertanda akan turun hujan lagi. Singkatnya momen matahari terbit di Puncak Sikunir lantas tak membuat penulis merasa kecewa. Jika berjalan ke arah barat puncak, maka akan terlihat pemandangan yang tidak kalah menarik. Pemandangan danau yang dipadukan dengan bukit-bukit juga menjadi sebuah sudut yang tepat bagi para wisatawan untuk mengabadikan momen. Setelah merasa puas menikmati keindahan wisata alam Puncak Sikunir, beberapa wisatawan memilih untuk kembali ke bawah. Setibanya di bawah, wisatawan akan disambut dengan kehangatan beberapa makanan yang disajikan oleh para pedagang. Kentang rebus dan gorengan menjadi sajian utamanya. Harganyapun juga sangat terjangkau.
Secara garis besar, Puncak Sikunir layak menjadi destinasi pilihan bagi wisatawan yang menggemari pesona wisata alam. Retribusi tiket yang cukup murah, keramahan warga setempat, keberadaan beberapa homestay di sekitar destinasi, keindahan saat berada di atas puncak, serta ketersediaan makanan ringan khas para pedagang menjadi daya tarik utama yang disajikan oleh destinasi wisata Puncak Sikunir. Kerjasama yang kuat antar warga desa setempat untuk membangun destinasi ini telah melahirkan sebuah hasil yang cukup memuaskan. Retribusi dari wisatawanpun juga telah terkumpul dan sebagian besar dipakai untuk membangun desa dan sarana prasarana yang terdapat di Puncak Sikunir. Meski pembangunannya dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus, namun menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap warga desa ketika mereka mampu menyediakan sebuah destinasi yang baik dan nyaman dari hasil kerjasama antar setiap anggotanya.
Berdasarkan pengamatan dari penulis, perlu dilakukan perbaikan terhadap beberapa sarana prasarana di destinasi. Perbaikan sederhana tersebut dapat dilakukan terhadap anak tangga yang digunakan oleh para wisatawan saat hendak menuju dan atau menuruni Puncak Sikunir. Ketika melakukan kunjungan, terdapat wisatawan yang tergelincir saat hendak menuruni puncak. Sehingga, keberadaan dari perbaikan terhadap anak tangga tersebut diharapkan mampu menjamin keselamatan dari para wisatawan.
Kegigihan dari setiap warga desa untuk menjadikan Puncak Sikunir menjadi sebuah destinasi wisatapun terbayar lunas dengan adanya antusiasme dari para wisatawan. Kini yang perlu dipikirkan oleh setiap warga setempat adalah upaya-upaya yang harus mereka lakukan untuk dapat mempertahankan Puncak Sikunir menjadi destinasi pilihan wisatawan saat mereka berkunjung ke wilayah Wonosobo, Dieng. Ketika warga desa setempat, sebagai pengelola destinasi mampu mempertahankan setiap hal yang telah mereka bangun selama ini serta melakukan pembangunan secara bertahap demi menghasilkan sebuah destinasi yang lebih baik lagi, maka akan berbuah manis terhadap destinasi tersebut dalam jangka waktu yang panjang.
Puncak Sikunir, menjadi salah satu bukti bahwa kekayaan alam di Indonesia layak untuk dieksplorasi oleh para pecinta alam dari seluruh penjuru negeri.


Gili Labak, Pulau Terpencil dengan Sejuta Keindahan
Lokasi: Gili Labak, Madura, Jawa Timur

Pesona alam Indonesia tidak pernah lelah membuat setiap wisatawan yang berkunjung berdecak kagum dan selalu memuja setiap keindahan yang ditawarkannya. Daya tarik yang dimiliki oleh alam Indonesia membuat aspek pariwisata di negara ini mulai sedikit diperhitungkan. Perbaikan beberapa aspek yang mendukung sektor pariwisata telah dilakukan oleh pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah setempat demi dapat menunjang sektor pariwisata secara lebih nyata lagi.
Gili Labak, sebagai pulau kecil yang terdapat di provinsi Jawa Timur, menjadi salah satu pulau yang belum begitu terkenal namun memiliki potensi yang begitu tinggi untuk dapat dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata pilihan wisatawan, khususnya bagi setiap wisatawan yang memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap laut. Pulau ini terletak di sebelah tenggara pulau Madura. Secara administratif, pulau ini masih termasuk dalam wilayah Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, provinsi Jawa Timur. Berdasarkan data tahun 2015, pulau ini dihuni oleh sekitar 36 kepala keluarga. Hal tersebut membuat pulau ini masih terlihat cukup sepi dan belum padat penduduk.
Pulau Gili Labak terkenal dengan hamparan pasir putih yang begitu indah disertai dengan biota laut yang begitu beragam. Air lautnya begitu jernih disertai dengan ombak tepi pantai yang begitu tenang. Saat berada di pulau Gili Labak, wisatawan dapat menikmati atraksi wisata berupa snorkeling di tengah laut untuk sekedar menikmati keindahan dasar laut Gili Labak. Perjalanan laut dengan menggunakan perahu dari nelayan setempat selama kurang lebih 3 jam harus ditempuh oleh setiap wisatawan untuk dapat mencapai pulau ini. Selain menawarkan atraksi wisata berupa snorkeling, destinasi wisata alam ini juga menawarkan beberapa opsi yang lain. Gili Labak menyediakan beberapa spot foto yang dapat digunakan oleh wisatawan untuk mengabadikan kenangan saat berada di pulau kecil ini. Terdapat dua dermaga yang bersentuhan langsung dengan laut membuat setiap wisatawan dapat bermain air sembari mengabadikan gambar.
Sebagian besar penduduk pulau Gili Labak memiliki mata pencaharian sebagai seorang nelayan. Sebagian kecil dari mereka turut berpartisipasi dalam mendukung perkembangan sektor pariwisata di pulau ini. Partisipasi sederhana tersebut diwujudkan dalam beberapa hal, seperti menjadi guide saat wisatawan melakukan kegiatan snorkeling, menyediakan rumah sebagai homestay bagi para wisatawan, membuka persewaan alat snorkeling dan persewaan perahu yang digunakan untuk mobilitas wisatawan dari pulau Madura menuju pulau Gili Labak, maupun sekedar membuka warung kecil yang menyediakan makanan dan minuman yang dapat dinikmati oleh setiap wisatawan. Partisipasi oleh masyarakat setempat itu dilahirkan karena adanya keyakinan bahwa pulau Gili Labak mampu menjadi destinasi pilihan wisatawan di masa yang akan datang dan mampu mendatangkan wisatawan dalam jumlah yang lebih besar.
Saat berada di pulau Gili Labak, penulis melakukan beberapa kegiatan wisata. Snorkeling, menjadi sebuah atraksi wisata yang diminati oleh setiap wisatawan yang berkunjung ke destinasi. Pesona bawah laut Gili Labak memang menyimpan berbagai keindahan yang layak untuk diabadikan. Selain melakukan snorkeling, berjalan mengelilingi pulau menjadi pilihan yang menarik pula. Setiap wisatawan hanya memerlukan waktu sekitar 1 jam untuk dapat mengeliling pulau ini dengan berjalan kaki. Suasana yang terik tidak menjadi halangan bagi penulis maupun wisatawan yang lain untuk dapat menikmati atraksi wisata yang satu ini. Dalam perjalanan mengelilingi pulau, wisatawan akan berjumpa dengan masyarakat setempat yang juga sedang melakukan kegiatan sehari-harinya. Masyarakat yang begitu ramah dan terbuka terhadap setiap wisatawan menambah nilai positif dari destinasi Gili Labak ini. Setelah melakukan perjalanan mengelilingi pulau selama kurang lebih 1 jam, beberapa dari wisatawan memilih untuk menghabiskan waktu mereka menikmati sajian makanan dan minuman di tepi pantai. Di pulau Gili Labak, hanya terdapat sebuah warung kecil yang menjual beberapa makanan dan minuman yang sederhana. Harga dari makanan dan minumannyapun sangat terjangkau. Berbanding terbalik dengan beberapa fakta rumah makan yang terdapat di destinasi-destinasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagian besar dari mereka menaikkan harga semaksimal mungkin ketika menyadari fakta bahwa hanya mereka yang menyediakan makanan dan minuman di destinasi tersebut. Setelah melakukan beberapa survei singkat dan tanya jawab kepada pemilik warung maupun guide, ketersediaan harga yang murah tersebut merupakan salah satu strategi yang dilahirkan masyarakat setempat untuk dapat menarik wisatawan agar datang dan berkunjung ke pulau Gili Labak lagi. Sebuah gagasan sederhana namun kreatif yang dilahirkan oleh masyarakat setempat demi dapat menunjang sektor pariwisata Gili Labak.
Kekurangan dari destinasi wisata Gili Labak adalah ketika masyarakat setempat hanya bergantung terhadap peran dari sebuah biro perjalanan wisata. Pendidikan akan pariwisata yang masih begitu sederhana membuat masyarakat sangat terbuka terhadap biro perjalanan tanpa mau membuka diri terhadap usaha perjalanan yang mandiri. Berbagai biro perjalanan tersebut sebagian besar berasal dari wilayah Surabaya maupun Sumenep. Hal tersebut jugalah yang kemudian membuat kehidupan sosial masyarakat setempat masih sangat sederhana dan jauh dari kata kemewahan, karena sebagian besar keuntungan mereka akan sektor pariwisata diambil oleh biro perjalanan yang mengadakan perjalanan wisata ke pulau Gili Labak. Selain itu, ada sebuah spot dermaga kayu yang sudah mengalami kerusakan. Keberadaan dari kerusakan dermaga kayu itu tidak kunjung diperbaiki oleh masyarakat setempat. Padahal, spot dermaga kayu tersebut mampu menjadi sebuah spot menarik yang dapat digunakan wisatawan untuk mengabadikan momen.
Mengingat keberadaan dari berbagai keindahan dan potensi wisata alam yang dimiliki pulau Gili Labak, maka akan sangat disayangkan saat masyarakat setempat tidak dibekali dengan pengetahuan tentang pariwisata secara lebih mendalam oleh pihak-pihak terkait. Di samping itu, sangat disesalkan saat terdapat sebuah spot yang mengalami kerusakan dan tak kunjung dilakukan perbaikan. Pemerintah setempat memiliki peran yang kuat akan keberlanjutan dari destinasi wisata ini. Saat kerjasama antar pemerintah, masyarakat lokal, akademisi, serta biro perjalanan dapat berjalan dengan baik, maka akan melahirkan berbagai keuntungan bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Namun, kerjasama itu tentunya dapat lahir ketika setiap instansi mau membuka diri terhadap sektor pariwisata yang secara nyata dapat menjadi sumber pemasukan yang besar terhadap pulau Gili Labak.
Gili Labak, sebagai sebuah pulau dengan hamparan pasir putih lengkap dengan degradasi warna air lautnya memiliki keindahan yang mampu menarik atensi dari para wisatawan. Wisatawan yang hadir di pulau ini memiliki harapan besar akan daya tarik yang ditawarkan destinasi. Sehingga, perlu dilakukan penanganan khusus dari pihak pengelola agar dapat tersedia sebuah keadaan alam Gili Labak yang sesuai dengan ekspetasi dari para wisatawan.

Pesona Dasar Laut Karimun Jawa
Lokasi: Karimun Jawa, Jepara, Jawa Tengah
Pesona wisata bahari dalam negeri memiliki seribu cara untuk dapat mengundang wisatawan hadir dan melakukan kunjungan ke destinasi. Keindahan biota laut disertai dengan nuansa biru yang membentang luas, telah menarik atensi wisatawan dari seluruh penjuru negeri untuk datang dan menikmati setiap atraksi yang ditawarkan. Karimunjawa, sebagai sebuah pulau yang menjadi bagian dari Jepara, menjadi salah satu pulau yang memiliki keanekaragaman laut dan telah memperoleh kunjungan dari berbagai jenis wisatawan, baik itu wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Pulau yang memiliki keberagaman biota laut ini menjadikan keindahan lautnya sebagai daya tarik utama bagi para wisatawan. Degradasi warna laut disertai dengan pasir putih yang terbentang hingga keragaman jenis ikan dan terumbu karang dapat disaksikan oleh setiap wisatawan yang melakukan kunjungan ke pulau Karimunjawa.
Penulis melakukan kunjungan ke pulau Karimunjawa pada bulan November 2017. Sembari berwisata, penulis tidak lupa untuk melakukan perbincangan singkat mengenai destinasi terhadap beberapa warga lokal maupun agen dari biro perjalanan. Salah satu narasumber penulis mengatakan bahwa pulau Karimunjawa mulai ramai diperbincangkan oleh para wisatawan sejak tahun 2010. Setelah itu, pulau Karimunjawa mulai memperoleh kunjungan oleh wisatawan secara signifikan dari tahun ke tahun. Salah satu faktor yang menunjang kenaikan jumlah kunjungan ini tidak lain adalah berkat dari ketersediaan transportasi menuju pulau Karimunjawa. Kapal laut, menjadi satu-satunya transportasi yang dapat digunakan wisatawan agar dapat singgah di pulau Karimunjawa dan mampu menikmati keragaman biota lautnya. Jadwal keberangkatan kapalnyapun juga beragam, tergantung pada jenis layanan kapal (ekonomi maupun express). Jika wisatawan memilih untuk naik kapal fery ekonomi, maka wisatawan harus membayar sejumlah 74.000 rupiah dan menempuh kurang lebih 4,5 jam perjalanan laut agar dapat tiba di pulau Karimunjawa. Sedangkan untuk kelas express, wisatawan hanya perlu menempuh perjalanan laut sekitar 2,5 jam dengan biaya yang lebih mahal. Banyak biro perjalanan yang menawarkan jasanya untuk merancang perjalanan setiap wisatawan yang hendak berkunjung ke pulau Karimunjawa. Rancangan perjalanan tersebut dikemas dalam bentuk paket wisata dan dipromosikan melalui media sosial yang telah tersedia. Harga yang ditawarkan oleh para biro perjalananpun cukup beragam, tergantung pada jumlah hari dan jenis paket yang dipilih oleh wisatawan.
Pulau Karimunjawa menawarkan beberapa atraksi wisata yang dapat dilakukan oleh wisatawan saat berada di destinasi. Atraksi wisata utama yang dapat dinikmati oleh para wisatawan adalah snorkeling. Ada begitu banyak spot menarik yang dapat digunakan sebagai lokasi snorkeling. Empat lokasi utama yang ditawarkan adalah Karang abadi, Secret Garden Spot, Terumbu Karang Nemo Spot, dan Gosong Cemara. Di keempat lokasi tersebut, wisatawan diajak untuk menyaksikan keindahan dasar laut Karimunjawa yang dihiasi oleh keberadaan terumbu karang, berbagai jenis ikan, maupun biota laut yang lainnya. Selain melakukan snorkeling, wisatawan diajak untuk menikmati atraksi wisata berupa bakar ikan di pinggir pantai sembari menikmati keindahan laut. Saat sore harinya, wisatawan dibawa untuk menikmati keindahan matahari tenggelam dari sudut barat pantai Tanjung Gelam.
Setiap sudut pulau Karimunjawa menawarkan berbagai jenis keindahan. Bukit-bukitnyapun tak kalah menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan yang ingin melihat pulau dari sudut pandang yang berbeda. Paling tidak, terdapat dua spot foto dari atas bukit yang dapat dijadikan pilihan wisatawan untuk mengabadikan momen, antara lain Bukit Love dan Bukit Joko Tuwo. Di kedua bukit tersebut, terdapat patung tulisan Karimunjawa lengkap dengan pemandangan sekitar pulau dari atas bukit. Biaya retribusi saat berada di kedua destinasi itu juga terjangkau, hanya sekitar 10.000 rupiah per orang.
Bila dipandang secara keseluruhan, pulau Karimunjawa memiliki berbagai kelebihan untuk dijadikan sebagai salah satu pulau pilihan wisatawan saat melakukan kunjungan ke dalam negeri. Keberadaan dari masyarakat lokal yang terbuka dan ramah terhadap setiap wisatawan, persewaan alat snorkeling, kapal kecil, kendaraan roda dua maupun roda empat, serta penginapan yang tersebar secara merata di sekitar destinasi menjadi keunggulan dari pulau Karimunjawa perihal industri pariwisata. Namun, yang menjadi koreksi dari keberadaan destinasi wisata ini adalah ketika beberapa awak kapal yang terlibat dalam industri pariwisata masih menggunakan terumbu karang sebagai alat kait kapal saat berada di tengah laut. Keberadaan dari fakta tersebut tentu akan mengancam biota terumbu karang seiring berjalannya waktu. Kepunahan terumbu karangpun dapat terjadi bila kerusakan-kerusakan signifikan tidak segera ditanggulangi. Perlu dilakukan upaya-upaya khusus sebagai wujud penanganan dari adanya aktivitas pariwisata di pulau Karimunjawa. Di samping itu, juga diperlukan ketegasan dari pemerintah setempat untuk mengatasi keberadaan dari kecurangan-kecurangan oleh awak kapal yang kemudian dapat membahayakan keragaman laut. Pulau Karimunjawa, selalu memiliki potensi besar untuk dapat dikembangkan menjadi sebuah destinasi utama pilihan wisatawan dari seluruh penjuru negeri.

![]() IMG_2803-01.jpeg | ![]() IMG_3152.JPG | ![]() 1522483497953-01.jpeg |
|---|---|---|
![]() IMG_3085.JPG | ![]() IMG_2806-01.jpeg | ![]() IMG_3134.JPG |
![]() IMG_3122.JPG | ![]() IMG_3073.JPG | ![]() IMG_2790.JPG |
![]() IMG_2707.JPG | ![]() IMG_3078.JPG |
Bromo Tengger Semeru, Deretan Keindahan Alam yang Memikat Hati
Lokasi: Bromo Tengger Semeru

Indonesia, menjadi sebuah negara yang layak untuk dipertimbangkan terkait dengan sektor pariwisatanya. Berbagai kekayaan alam dan budayanya mampu membuat setiap wisatawan yang berkunjung berdecak kagum dan tiada hentinya mengagumi negara agraris ini. Perhatian pemerintah terkait dengan sektor pariwisata nyatanya mampu mendongkrak jumlah kunjungan pariwisata dalam negeri. Bukan hal yang mengejutkan lagi ketika pemerintah mulai menetapkan target kunjungan wisatawan dalam jumlah yang cukup tinggi pula.
Kawasan Bromo memang bukan menjadi salah satu bagian dari 10 branding pariwisata dalam negeri yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun, kawasan ini cukup layak untuk dikunjungi dan telah memiliki peminatnya sendiri. Bromo, sebagai sebuah wisata alam dalam negeri, menjadi destinasi yang ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Berbagai wisatawan berbondong-bondong mencapai destinasi ini untuk kemudian menikmati beberapa atraksi wisata yang ditawarkan, baik itu berupa Bromo Sunrise View Point, Pasir Berbisik, Bukit Teletubis, maupun atraksi wisata yang lainnya.
Agar dapat mencapai kawasan Bromo, penulis harus menempuh perjalanan darat kurang lebih 2 jam. Perjalanan tersebut dimulai dari kota Surabaya. Biasanya, wisatawan memilih untuk berangkat tengah malam agar dapat mencapai puncak saat matahari hendak terbit. Untuk dapat mencapai ke lokasi Bromo Sunrise View Point, setiap wisatawan dapat menyewa mobil jeep yang tersedia secara kolektif di meeting point pertama.
Dengan membayarkan sejumlah 300.000 rupiah, jeep ini akan membawa wisatawan berkeliling ke seluruh kawasan Bromo lengkap dengan tiket masuknya. Sehingga, kami tidak perlu khawatir untuk mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi saat berada di destinasi wisata.
Pada spot Bromo Sunrise View Point, wisatawan disuguhkan pemandangan Bromo dari puncak lengkap dengan matahari terbit yang begitu indah. Sebagai informasi, suhu yang ditawarkan dari atas puncak cukup membuat wisatawan menggigil. Saat itu, suhu mencapai 9 derajat celsius. Sehingga, alangkah lebih baik jika setiap wisatawan memakai pakaian hangat lengkap dengan sarung tangannya. Di samping itu, karena kondisi medan yang cukup licin, wisatawan disarankan untuk memakai sepatu yang nyaman untuk digunakan saat pendakian.
Pasir berbisik, menjadi spot yang ditawarkan kepada wisatawan setelah menikmati spot Bromo Sunrise View Point. Di kawasan wisata ini, wisatawan dapat mengambil beberapa foto dengan latar belakang yang menarik. Saat itu, kabut disertai gerimis rintik menambah suasana romantis yang ditawarkan oleh kawasan Bromo. Di spot Pasir Berbisik ini, wisatawan juga dapat mengunjungi Pura yang berlokasi tidak jauh dari spot utama. Pura tersebut dapat ditempuh dengan berjalan kaki maupun menunggangi kuda yang disediakan oleh masyarakat lokal. Di samping itu, juga terdapat beberapa pedagang yang menjual makanan ringan sebagai sajian yang dapat dinikmati oleh wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini.
Setelah puas menikmati spot pasir berbisik, wisatawan akan dibawa menuju spot Bukit Teletubis. Di kawasan ini, wisatawan dapat menikmati sajian alam lengkap dengan beberapa bukit yang terbentang luas. Hanya perlu mengambil foto dengan sudut yang tepat dapat menghasilkan kualitas gambar yang mampu membuat setiap orang berdecak kagum. Bahkan menurut beberapa orang, Bukit Teletubis ini menjadi kawasan yang cukup diminati oleh setiap wisatawan yang berkunjung.
Secara keseluruhan, Kawasan Bromo Tengger Semeru ini menyajikan sebuah sajian wisata alam yang menarik dan layak untuk dipertimbangkan oleh para pecinta alam. Cuaca yang sejuk disertai pemandangan bukit hijau lengkap dengan pasir yang terbentang luas menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap wisatawan yang berkunjung. Masyarakat lokal yang begitu ramah kepada wisatawan juga menjadi salah satu wujud hospitalitas yang baik di destinasi ini. Ketersediaan alat transportasi menuju puncak yang sangat memadahi menjadi salah satu bukti nyata bahwa kawasan Bromo Tengger Semeru siap bersaing dengan destinasi wisata alam yang lain. Indonesia, selalu memiliki seribu cara untuk membuat setiap wisatawan mengagumi keindahan setiap sudut wisatanya!
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
|---|---|---|---|---|---|---|
![]() |

Hutan Pinus Pengger dan Bukit Panguk sebagai Sudut Lain Wisatawan dalam Menikmati Keindahan Yogyakarta
Lokasi: Yogyakarta

Yogyakarta, menjadi rumah untuk saya pergi dan kembali. Telah menjadi kota pilihan saya sejak 3 tahun yang lalu untuk menimba ilmu di tingkat yang lebih tinggi lagi. Yogyakarta dikenal dengan kekayaan alam dan budayanya. Keberadaan dari destinasi wisata alam maupun budaya yang beragam mampu menarik atensi dari wisatawan untuk singgah dan berkunjung kesini. Selama kurang lebih 3 tahun tinggal di daerah ini, saya cukup sering melakukan perjalanan singkat di beberapa destinasi terkenal di kawasan Yogyakarta. Baik itu destinasi alam berupa pantai, gunung, bukit, air terjung maupun destinasi budaya seperti Keraton Yogyakarta, Museum Benteng Vredeburg, Museum Sonobudoyo, Taman Sari dan lain sebagainya. Namun, di antara semuanya itu, destinasi alam memang selalu menjadi pilihan terfavorit saya untuk menghabiskan waktu.
Dikarenakan telah menetap selama periode waktu tertentu, saya sering memperoleh kunjungan oleh teman-teman dari luar kota. Bahkan, mereka mempercayakan saya untuk menjadi pemandu wisata selama mereka berada di Yogyakarta. Beberapa waktu yang lalu, saya memperoleh kesempatan untuk mengantarkan beberapa teman saya yang melakukan kunjungan ke daerah istimewa ini. Setelah melakukan beberapa pertimbangan, baik itu dari faktor waktu dan jarak tempuh, kami memutuskan untuk melakukan kunjungan ke destinasi Bukit Panguk dan Hutan Pinus Pengger. Kedua destinasi tersebut merupakan destinasi yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Sehingga saya cukup antusias dalam melakukan perjalanan singkat ini.
Kami berangkat pada pukul 4 pagi. Hal tersebut disebabkan karena kami ingin memperoleh golden sunrise saat berada di Bukit Panguk. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, kami disambut oleh kabut tebal dari atas bukit. Saat itu, kondisi di atas Bukit Panguk sudah ramai oleh pengunjung yang lain. Namun cukup disayangkan saat kami gagal memperoleh golden sunrise karena kabut menghalangi fenomena matahari terbit dari sudut timur bukit. Ketiadaan golden sunrise lantas tidak membuat kami patah semangat. Udara sejuk disertai dengan pemandangan alam yang memikat dari atas Bukit Panguk membuat kami memutuskan untuk mengabadikan beberapa gambar. Bahkan, dengan biaya retribusi sebesar 15.000 rupiah per motor, kami cukup puas dengan fenomena alam yang ditawarkan di Bukit Panguk ini. Setelah menikmati destinasi selama kurang lebih 2 jam, kami kemudian beranjak ke destinasi selanjutnya, yaitu Hutan Pinus Pengger.
Hutan Pinus Pengger terletak berdekatan dengan beberapa destinasi alam lainnya. Kami cukup menempuh perjalanan selama 15 menit untuk kemudian tiba di destinasi ini. Saat itu, kawasan Hutan Pinus Pengger cukup lenggang. Wisatawan yang berkunjungpun dapat dihitung melalui hitungan jari. Hal tersebut disebabkan karena destinasi ini tergolong destinasi yang baru di kawasan Yogyakarta. Destinasi ini menawarkan atraksi wisata berupa rumah pohon dengan bentuk-bentuk menarik disertai dengan pemandangan kota Yogyakarta dari atas bukit. Di samping rumah pohon, para pengunjung akan menemukan sarang burung unik yang berukuran cukup besar dan dapat digunakan pengunjung untuk mengabadikan gambar. Biaya retribusi masuknya sama dengan biaya retribusi di Bukit Panguk. Cukup dengan membayarkan sejumlah 15.000 rupiah setiap motornya, pengunjung sudah dapat menikmati seluruh atraksi wisata yang ditawarkan di destinasi. Setelah menikmati destinasi selama kurang lebih 1 jam setengah, kami memutuskan untuk kembali ke kota.
Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melakukan perjalanan ke destinasi wisata yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Antusias yang tinggi oleh para penikmat wisata saat tiba di destinasi akan terasa lebih sempurna bila dilengkapi dengan kehadiran orang-orang yang ia harapkan ada. Walaupun dalam durasi yang singkat dengan jarak tempuh yang cukup dekat, perjalanan akan terasa lebih berharga ketika kita mau menghargai momen dan menikmati setiap hal kecil yang terdapat di sekitar kita. Yogyakarta, selalu memiliki seribu alasan bagi para wisatawan untuk kembali pulang.
![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
|---|
Perjalanan Singkat ke Pantai Timang dan Pantai Ngitun!
Lokasi: Pantai Timang dan Pantai Ngitun, Gunung Kidul, Yogyakarta

Tidak akan ada yang mampu bertahan lama untuk menahan rindu. Rindu kepada setiap hal yang ada di dunia termasuk kepada setiap keindahan yang ditawarkan oleh semesta. Hari ini saya dan ketiga teman saya memutuskan untuk pergi. Pergi menghampiri hamparan pasir putih dan deruan ombak yang pecah namun begitu menentramkan hati. Tidak perlu dengan banyak orang. Cukup dengan beberapa namun dapat membuatmu bahagia.
Pagi ini nampak lebih dingin dari biasanya. Kami berempat berangkat lebih awal. Sengaja mengejar waktu namun tetap mengharapkan perjalanan yang berkualitas. Satu jam setengah perjalanan kami lalui dengan cukup menggigil. Namun, betapa bahagianya menyambut sinar matahari yang telah menyapa hangat dari ujung timur. Tiba di ujung jalan menuju pantai Timang, kami ditantang dengan jalan yang cukup ekstrim sepanjang hampir 4 kilometer. Jalan tersebut cukup menyiksa beberapa dari kami yang memang sedang menjalankan ibadah puasa. Namun, tidak pernah sekalipun mematahkan semangat kami untuk menghampiri sang pembuat rindu! Kami tiba di pantai setelah menempuh jalan batu yang tidak rata selama 40 menit. Setibanya disini, kami disambut dengan lautan yang sangat mampu menjatuhkan hati kami berempat, sedalam-dalamnya.
Tidak perlu menunggu waktu lama bagi kami untuk dapat mengabadikan diri pada setiap kesempatan indah. Secara bergantian, kami mengambil beberapa gambar dengan latar belakang hamparan laut biru ini. Sembari menanti giliran, saya memainkan beberapa lagu secara langsung dengan gitar kecil yang selalu menemani setiap perjalanan saya ke destinasi-destinasi yang tersebar di seluruh negeri. Beberapa saat saya gunakan untuk bertukar cerita dengan ketiga teman yang lain.
Pantai Timang merupakan pantai yang memiliki jembatan kecil dan panjang serta gondola yang dapat digunakan oleh setiap wisatawan untuk menyebrang ke pulau kecil. Tarif untuk kedua atraksi wisata itu juga berbeda-beda. Untuk dapat menyebrang menggunakan jembatan kecil, wisatawan harus membayarkan sejumlah 100.000 rupiah. Sedangkan untuk menyebrangi laut menggunakan gondola, setiap wisatawan harus merogoh kocek sekitar 150.000 rupiah. Di samping itu, juga ada beberapa atraksi wisata yang ditawarkan seperti rumah kayu. Untuk dapat berfoto di atas rumah kayu tersebut, wisatawan cukup membayarkan sejumlah 10.000 rupiah. Pantai ini menawarkan keindahan laut yang begitu luar biasa. Menyadari bahwa perjalanan yang ditempuh cukup sulit, merekapun menawarkan jasa ojek maupun jeep. Jasa jeep dapat digunakan oleh 3-5 wisatawan dengan membayarkan sejumlah 300.000-350.000 rupiah. Sedangkan untuk ojek, wisatawan cukup membayarkan sejumlah 50.000 rupiah. Jeep dan ojek tersebut akan mengantarkan wisatawan dari dan kembali ke tempat meeting point semula. Secara garis besar, pantai ini cukup mampu menarik perhatian wisatawan melalui beberapa atraksi wisata yang ditawarkan lengkap dengan warung kecil, toilet, parkir yang aman serta warga yang begitu ramah kepada setiap wisatawan yang datang.
Setelah beristirahat serta mengambil beberapa gambar di destinasi ini, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi yang lain yaitu Pantai Ngitun. Pantai ini berjarak sekitar 10 kilometer dari Pantai Timang. Aksesibilitas menuju Pantai Ngitun memang lebih baik bila dibandingkan dengan jalan menuju ke Pantai Timang. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 20 menit untuk dapat tiba di Pantai Ngitun.
Hari ini memang terasa cukup sepi karena matahari sedang berada di puncak bahagianya dalam menyinari bumi. Di samping itu, sebagian besar sedang menunaikan ibadah puasa. Hanya orang-orang nekat seperti kamilah yang mampu menerjang terik untuk dapat duduk bersantai di tepi pantai sembari bertukar cerita tentang kehidupan. Sejauh mata memandang, wisatawan yang datang ke pantai Ngitun hanya kami berempat ditambah dengan dua orang asing yang lain. Kesunyian pantai menambah ketentraman hati kami.
Pantai Ngitun menjadi pantai yang sangat menarik atensi kami karena ia memiliki tebing yang dapat didaki oleh wisatawan untuk kemudian melihat keindahan hamparan laut dari atas tebing. Bahkan, wisatawan tidak ditarik biaya retribusi untuk dapat naik ke tebing tersebut. Saya dan Michelle memutuskan untuk mendaki tebing. Hanya perlu waktu sekitar 10 menit bagi kami untuk dapat mencapai puncak tebing dan menikmati hamparan laut. Terik matahari yang begitu menyengat serta pendakian yang cukup curam tidak membuat kami menyesal karena pemandangan dari atas sini sungguh mampu meluluhkan hati. Kami menghabiskan waktu sekitar 40 menit berada di puncak tebing sembari mengabadikan beberapa gambar indah. Awalnya terasa berat bagi kami untuk memutuskan kembali ke tepi pantai. Namun, akhirnya kami memutuskan untuk turun dari puncak tebing karena mengingat dua teman kami yang lain sedang bosan menunggu kami yang tak kunjung kembali.
Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua siang. Tanda bahwa kami harus segera kembali ke Yogyakarta untuk kemudian melanjutkan aktivitas kami yang lain. Perjalanan yang panjang terasa terbayar lunas dengan pemandangan indah yang diciptakan oleh Yang Maha Esa. Deruan ombak dan pasir putih memang selalu menjadi komposisi yang pas untuk menjadi zona nyaman saya secara pribadi. Mengingat hal-hal yang akan saya lakukan beberapa bulan kedepan, entah kapan lagi saya dapat kembali ke tempat yang menyejukkan hati ini. Sehingga, kepada semesta yang telah memberikan kesempatan untuk saya dapat menikmati keindahannya hari ini, juga kepada ketiga teman saya yang telah meluangkan waktunya untuk menemani perjalanan singkat penuh arti kali ini, saya mengirimkan ribuan kata terima kasih. Sampai jumpa lagi, pada kesempatan indah yang lain!
Yogyakarta, 2 Juni 2018
Yang akan rindu,
Priscila Triviana D.

All Videos

ONE DAY TRIP KE PANTAI TIMANG DAN PANTAI NGITUN! (2 JUNI 2018)

EXPLORE DIENG 25 26 SEPTEMBER 2017

EXPLORE KARIMUNJAWA 3 NOVEMBER - 7 NOVEMBER 2017
![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() | ![]() |
|---|---|---|---|---|---|---|
![]() | ![]() |
Kami dan Keindahan Pulau Dewata
Bali, 12-16 Agustus 2018

Melakukan sebuah perjalanan selalu menjadi bagian yang menyenangkan dalam hidup. Perjalanan kali ini, dimulai ketika waktu kami semakin terdesak oleh kegiatan-kegiatan maupun proses pendewasaan yang lain di masa kuliah yang semakin menyempit ini. Di samping itu, menyenangkan pula menghabiskan waktu bersama manusia yang akrab saya panggil dengan berbagai nama yang dipaketkan dalam kemasan sahabat yang selama ini telah merepotkan diri memberikan bagian-bagian menyenangkan lain untuk saya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini.
Hari itu tengah malam, tanggal 12 Agustus 2018. Kami sudah merepotkan diri mempersiapkan ini itu untuk dibawa ke pulau Dewata. Bagaimana tidak, kami yang baru mendarat di Yogyakarta pada 11 Agustus 2018 pukul 21.00 malam, setelah mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat selama kurang lebih 45 hari di Mesuji, Lampung, memaksakan diri untuk langsung melakukan perjalanan ke Bali keesokan paginya. Tidak banyak mengeluh, karena kami sudah sangat menantikan keberadaan dari perjalanan ini.
Hari pertama!
Pagi nampak lebih cerah. Entah karena kami yang terlalu bersinar atau memang hari itu nampak sangat menyenangkan. Pesawatpun menolak delay, kami juga. Perjalanan dimulai pukul 7 pagi dan mendarat dengan sedikit kasar di Bandara Ngurah Rai, Bali. Sudah menahan lapar karena paginya perut hanya diganjal dengan susu dan sereal, kami langsung bergegas ke Nasi Pedas Ibu Andika yang katanya cukup terkenal di wilayah Bali. Nasi orek, ikan teri, ayam dan sambal yang ternyata “benar-benar” pedas menjadi menu makan pertama kami di Bali. Saya kepedasan, Yola juga. Tapi enak, kok. Gak bohong. Setelah kepedasan dan memutuskan untuk kenyang, kami sempat mondar-mandir sebelum memutuskan untuk mengunjungi toko oleh-oleh Krisna. Baru hari pertama, tapi langsung kesini. Iya, karena kami gaktau mau kemana lagi karena hari masih terlalu pagi dan belum bisa check-in di hotel. Dalam keadaan masih membawa koper besar beserta segenap printilannya termasuk Yafa (nama guitalele saya, hadiah ulang tahun dari Yola) serta Owl dan Stitch (bantal leher kami), kami masuk ke Krisna dan membeli beberapa barang. Yola sudah beli banyak barang, saya dikit, kok J. Setelah itu, kami langsung berangkat menuju Hotel tempat kami menginap untuk istirahat sebentar. Benar-benar sebentar. Baru juga duduk, kami sudah langsung keluar hotel lagi untuk menikmati hari pertama di Bali. Tema hari pertama kami di Bali yaitu menikmati suasana di daerah Kuta, Bali. Tapi sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk menyantap McFlurry! Oh iya, sebagai informasi, hari pertama kami jalan jauh, cukup jauh. Jalan kaki, karena memang rental motornya baru saat hari kedua. Berbekal McFlurry, kami berjalan menyusuri daerah Kuta. Masuk ke-tiga store Minisoo di tempat yang beda-beda. Ke toko aksesoris dan baju, maupun ke toko aksesoris HP, mengingat kabel charger HP Yola yang rusak dan perlu kabel sesegera mungkin. Kami kemudian menyerah dan berakhir naik gojek karena setelah disadari, kami berjalan sudah sangat jauh. Hari pertama, kami menikmati senja pertama di Pantai Kuta. Padat wisatawan, baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. Diiringi lagu Aku Tenang dari Fourtwnty dan Kulari ke Pantai nya Ran, senja pertama di Bali benar-benar syahdu. Sekarang saja, saya sudah rinduL
Menikmati senja ternyata bukan hanya membuat lapar mata, namun lapar perut juga. Sesudahnya, kami beranjak ke Yoshinoya, mengisi perut. Pulang sebentar ke hotel untuk mandi, tentu jalan kaki lagi, kemudian langsung beranjak ke Mall yang berada di dekat hotel. Di mall, lagi-lagi Yola yang banyak membeli barang, membeli banyak hal untuk diri sendiri dan untuk CilaJ Sangat bahagia mendengar kabar bahwa di mall terdapat store minisoo (lagi) dan disana ada botol Ice bear serta headset yang selama ini saya cari-cari. Saya merengek minta dibelikan. Dia mengiyakan. Betapa beruntungnya saya yang cukup grumpy, bersahabat dekat dengan manusia yang baik dan suka membelikan ini ituJ hehe. Terima kasih, Yola! Kemudian, kami langsung menuju McD (lagi, dan lagi) untuk membeli asupan makan. Sekarang saya baru sadar, ternyata di Bali banyak makan, ya.

Hari kedua!
Malam hari, kami langsung terlelap saat mendarat di hotel. Paginya, kami siap untuk menjelajah pulau Bali bagian Kintamani! Kami berangkat pukul 9 pagi. Rencana awal pukul 7, mundur sedikit karena kami tidak dikejar waktu, hehe. Oh iya, sebagai informasi, kami kembali ke Nasi Pedas Bu Andika lagi untuk sarapan. HEHEHEHE. Saat hari kedua, kami sudah punya kendaaraan roda dua! Entah karena lama tidak melakukan perjalanan panjang atau karena kelamaan tinggal di desa dan tidak kemana-mana, kami berdua sangat lemah hari itu. Mengantuk di tengah jalan membuat kami memutuskan untuk berhenti di Alfamart, cari kopi. Pukul 11, kami baru tiba di Desa Adat Panglipuran. Tiket masuk ke desa ini cukup murah, 30ribu untuk dua orang. Tidak banyak yang berubah dari desa ini. Tetap rapi, indah, asri seperti sediakala. Kami jalan kesana kemari mengelilingi desa adat, pun tidak lupa untuk mengabadikan beberapa gambar. Setelah itu, kami beranjak ke Danau Batur. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Sesampainya di Danau Batur, kami memutuskan untuk makan di restoran terdekat yang memiliki point view menarik tentang danau. Restorannya cukup unik. Memiliki spot makan yang mengapung di atas danau. Awalnya, kami memilih spot makan tersebut. Sejuk dan pemandangannya menarik. Namun, makin lama, makin badai yaL Akhirnya kami pindah ke spot makan yang lebih tenang. Nasi goreng spesial menjadi menu andalan kami siang itu. Setelah makan, kami menuju spot makan mengapung untuk mengambil beberapa gambar di bawah bendera merah putih dengan latar belakang gunung dan danau. Indah!
Perjalanan dilanjutkan menuju ke Pura Besakih, sebagai pura tertua dan terbesar di daerah Bali. Harga tiket masuknya cukup mahal. Khusus wisatawan lokal, tiap orangnya dibebankan sejumlah 40 ribu rupiah. Saat itu, kondisi pura padat dengan pengunjung karena bertepatan dengan keberadaan dari upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Bali yang menganut agama Hindu. Setiap wisatawan dibekali dengan satu tour guide yang ramah dan informatif. Kami kemudian berkeliling wilayah Pura Besakih hingga akhirnya kami lelah dan kembali turun ke bawah. Di bawah, kami berdua disambut dengan anak-anak kecil yang menawarkan post card yang dijual cukup murah. Bisa apa kami selain mengiyakan untuk membeli postcard mereka, karena kebetulan, kami berdua juga sedang mengoleksi postcard dari daerah-daerah yang telah kami kunjungi. Dengan uang 20ribu, kami memperoleh 6 lembar post card lengkap dengan foto-foto Pura Besakih. Karena hari sudah menjelang petang, kami memutuskan untuk kembali ke daerah Kuta. Yola mengantuk di tengah jalan, akhirnya saya yang mengambil alih kendali roda duaJ Satu jam setengah perjalanan ditempuh untuk kemudian membuat kami memutuskan berhenti di Starbucks, sesuai request Yola, sang pemuja Starbucks dengan segala Green Tea enaknya. Saya cukup jadi penggemar Vanilla-cream. Kebetulan, ada Hokben di sebelah Starbucks, kamipun memutuskan untuk makan sekalian. Sungguh, sekarang saya sangat sadar bahwa sangat banyak asupan fastfood yang masuk ke perut selama kami berada di Bali. Perjalanan yang panjang, diakhiri dengan tidur pulas hingga keesokan paginya. Hari kedua melelahkan, namun juga sangat berkesan!


























































